Setnov keukeuh tak mengaku, Minta dihormati sebagai Ketua DPR

Suatudunia.com - Ketua DPR Setya Novanto seperti merasa sebagai korban yang diperas dalam polemik pencatutan nama Presiden dan Wapres guna menjamin kelancara renegosiasi kontrak PT Freeport Indonesia.

Oleh karena pertemuannya dengan pengusaha minyak Reza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin  telah direkam dan dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Menteri ESDM, Sudirman Said.

Pada pertemuan tersebut, Setya Novanto bersama Reza diduga telah meminta saham kepada PT Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Setya Novanto
Setya Novanto
“Saya merasa ini kayak blackmail, juga begitu, diedar-edarkan,” kata Novanto saat ditemui di kediamannya, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (18/11/2015) malam.

Setya Novanto merasa kalau dirinya adalah Ketua DPR yang tidak layak untuk diblackmail seperti itu dan minta dihargai.

“Saya begini juga Ketua DPR, kok sampai tega mem-blackmail begitu,” ujarnya.

Setnov juga menegaskan bahwa sebenarnya Maroef yang pertama kali menemui dia di DPR. Menurut Setnov, Maroef meminta jaminan supaya kontrak dari PT Freeport Indonesia dapat diperpanjang sampai dengan 2041.

Setelahnya, PT Freeport bersedia untuk membangun smelter tetapi smelter tersebut bukan didirikan di Papua, tapi di Gresik. Pertemuan tersebut selanjutnya berlangsung sekali lagi dengan pembahasan yang sama.

Pada pertemuan ketiga, pada tanggal 16 Juni 2015 di kawasan Pacific Place, Setnov akhirnya mengajak Reza yang dikarenakan curiga dengan maksud dari PT Freeport Indonesia dan pada pertemuan itulah direkam.

“Saya enggak mengerti juga apa motif dan tujuannya mem-blackmail seperti itu,” ujar Novanto.

Novanto kembali menegaskan kalau transkrip pembicaraan dari hasil rekaman pertemuan yang pada saat ini banyak beredar di media sosial tersebut adalah tidak utuh.

Novanto hanya menegaskan kalau tak pernah ada percakapan yang mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla seperti yang sudah dituduhkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said.

Bukan hanya itu saja, menurutnya, tak pernah ada juga permintaan saham atas nama Jokowi-JK baik dari dirinya atau dari Reza.

Walau demikian, Setya Novanto terlihat aneh karena tak menjawab tegas pada waktu ditanya apakah bakal membawa masalah ini ke jalur hukum atau tidak. Padahal, jika memang Setya Novanto benar, ini merupakan pencemaran nama baik yang bisa dituntut ke jalur hukum dengan pasti.

“Ya, yang jelas saya sudah menyerahkan semuanya kepada pihak yang saya percaya untuk menindaklanjuti, melihat substansinya apa?” tutur Novanto.

Setya Novanto hanya pasrah dan menyerahkannya kepada publik untuk dapat menilai masalah ini yang tentu jika dilihat kasat mata, publik akan menyalahkan dirinya.

“Tapi, saya menyerahkan kepada publik untuk menilai masalah ini. Tidak mungkin saya mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden,” ucapnya.

Bagaimana menurut Anda?

 



Top